Reforestasi TNTN dan Tanaman Endemik

Setelah sekian puluh tahun sempat terbiarkan menjadi wilayah garapan, akhirnya Taman Nasional Teso Nilo berhasil ditertibkan dari tindakan sejumlah kalangan yang menjadikan kawasan itu sebagai perkebunan sawit ilegal. Penertiban yang dilakukan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) berlangsung singkat yaitu kurang dari satu tahun. Meskipun sempat terjadi riak-riak kecil, tetapi penertiban kawasan seluas 81.793 hektare yang sempat jadi sorotan dunia karena kerusakannya, terbilang mulus.
        
Meskipun keputusan penertiban terkesan cukup terlambat, karena hampir 65 ribu hektare kawasan sudah hancur, tetapi paling tidak, tindakan itu jauh lebih baik, sebab kawasan ini masih bisa dikuasai. Lihaltlah apa yang terjadi dengan taman nasional Bukit Tiga Puluh, Bukit Betabuh, Mahato yang kini keberadaannya hanya tinggal nama tanpa menyisakan hutan dan kawasan sama sekali.
    
Meskipun konon kabarnya kawasan hutan primer di TNTN tidak lebih dari ribuan hektar, tetapi, penyelamatan kawasan dari perambahan total adalah sebuah tindakan yang sangat tepat, sebab kawasan ini sesungguhnya masih menyimpan begitu banyak pertanyaan untuk dapat diteliti guna pengembangan pengetahuan diberbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan hutan. Ada ratusan jenis tanaman yang sama sekali belum tergali untuk diketahui dengan baik tentang manfaatnya bagi kehidupan kita baik dari segi obat-obatan maupun yang lain. Ada puluhan dan mungkin juga ratusan fauna yang juga jangan jangan memiliki nilai manfaat tinggi bagi kemajuan pengetahuan dan yang lainnya. 
    
Jika berkaca kepada pengalaman dan pengetahuan masyarakat lokal setidaknya ada begitu banyak jenis, kayu, akar, kulit, buah dan daun yang bermanfaat bagi kebutuhan manusia.  Ada yang befungsi sebagi makanan, pakaian, obat-obatan, hingga kepada peralatan lainnya seperti persenjataan. Pengetahuan sederhana dalam memanfaatkan hutan dalam berbagai kehidupan ini ada begitu banyak dan dapat dijadikan dasar bagi pengetahuan lebih dalam yang berdasarkan penelitian ilmiah.

Sayangnya pengetahuan yang begitu kaya ditengah masyarakat ini kini hilang bersama hilangnya kawasan hutan yang berlangsung secara masif. Kondisi itu makin diperparah karena generasi awal yang pernah hidup berbasis hutan, yang berperan sebagai pengguna dan pelaku sudah hilang juga karena kematian akibaat faktor umur, sementara catatan yang dapat di warisi bagi generasi berikutnya sama sekali tidak ada.

Kawasan Teso Nilo menurut hemat saya adalah kawasan yang masih tersisa yang harus difokuskan bukan saja menyelamakan taman nasional, tetapi dapat dijadikan ladang pengetahuan yang sangat beragam bagi kemajuan bangsa ini ke depan yang bersumber dari hutan alam. Teso Nilo sangat mungkin dijadikan haamparan laborotorium bagi perlombaan penelitian dalam berbagai pengetahuan yang pada akhirnya bermanfaat bagi kebijakan dimasa mendatang. Jika selama ini terutama sejak beberapa dekade terakhir kita hanya membicarakan kayu yang bernilai ekonomis dari hutan, tetapi kedepan dengan ditunjang oleh penelitian jangan-jangan hutan secara ekonomis bisa menghasilkan nilai yang lebih besar dari sekadar hasil kayu.

Jika selama ini orang menganggap perkebunan sawit adalah pilihan terbaik untuk kesejahteraan, sehingga jadi pilihan utama bagi masyarakat Riau, maka kedepan jangan-jangan hasil sawit tidak ada apa- apanya jika dibanding minyak seminai--sejenis minyak dari buah ponon seminai--  dimana dalam kehidupan masyarakat Petalangan dahulu menjadi hidangan perjamuan yang dihandalkan dalam menu makanan tamu kehormatan.
    Sangat mungkin juga kita akan menjadi penghasil buah barangan (chestnut) terbesar di dunia, dan jadi pengisi utama cemilan chestnut yang hadir di hotel berbintang di seluruh dunia. Dan kita sangat mungkin untuk itu karena pohon barangan dulunya begitu banyak tumbuh liar di kawasan hutan kita termasuk di areal Teso Nilo sebagai habitatnya.
    
Ada begitu banyak kemungkinan berupa peluang sekiranya hutan kita diteliti kemanfaatan apa-apa yang ada di dalamnya. Bukan seperti hari ini, dimana hutan seolah musuh sehingga harus dimusnakan secara membabi buta tanpa pertimbangan yang lebih baik akan manfaatnya selain kayu. Padahal bagi masyarakat kita yang tinggal berdampingan dengan hutan dulunya mereka menikmati hidup begitu bahagia, tanpa harus menanam, merawat, memelihara, memupuk tetapi hanya panen dengan sedikit menjaga keberadaanya. Hutan dan alam sekitarnya bagi masyarakat adalah ruang dan sumber kehidupan yang sangat penting.

Mungkin ratusan tahun lalu pada awalnya, bunga cengkeh, buah pala, kulit kayu manis, adalah hasil hutan yang biasa-biasa saja tanpa pernah dilirik dan diperdulikan secara berlebihan, dan masyarakat hanya menganggapkan untuk  ramuan yang biasa saja. Tetapi akhirnya pada zaman kolonial, saat dia diketahui dapat dijadikan rempah-rempah yang sangat penting dalam berbagai masakan di seluruh dunia, maka perhatian terhadapnya akhirnya melebihi perhatian terhadap emas terutama dalam sektor perdagangan. Bahkan bukakkan kita dihegamoni beratus tahun oleh bangsa eropa  gara-gara keberadaan tanaman itu?  Satu yang harus kita sadari bahwa cengkeh, pala, kulit manis adalah tanaman hutan yang ada di negeri ini.  

Terakir ada tanaman keratom, gelenggang, akar benjaka telah pula menjadi komoditas yang bernilai ekonomi baik, dan sangat diminati pasar obat internasional. Sangat mungkin ada lunsinan lagi tanaman hutan kita yang saya yakin bagai harta karun yang memungkinkan negeri ini tidak hanya menghandalkan tambang yang lebih berpotensi merusak lingkungan.

Pada sisi lain, penelitian yang meluas tentang potensi hutan sangat mungkin bisa membuka wacara tentang penyelamatan hutan yang lebih masif. Pemerintah sangat mungkin akan meninjau ulang memberi izin atas pengembangan hutan tanaman industri yang membolehkan penghancuran terhadap puluhan bahkan ratusan jenis tanaman hutan alami dan menggantikan dengan satu jenis tamanan tertentu. Padalah bisa jadi pohon yang dimusnakan itu diantaranya ada yang memiliki nilai ekonomis berlipat-lipat lebih tinggi jika dibanding satu jenis tanaman industri, seperti akasia.

Reboisasi Dengan Tanaman Endemik.
    
Atas pertimbangan diatas, maka menurut hemat saya dalam upaya melakukan penanaman kembali kawasan Teso Nilo (reboisasi) maka perlu untuk dipertimbangkan agar jenis tanaman yang akan ditanam adalah tanaman endemik, terutama yang ada nilai ekonominya, yang keberadaanya hampir punah.

Menumbuhkan kembali tanaman endemik di sebuah kawasan itu bukan saja penting bagi penghijauan, tetapi merupakan upaya kita memberi peluang bagi berkembangnya pengetahuan tentang manfaat hutan alam yang lebih luas bagi kehidupan manusia.
Minyak yang dihasilkan buah pohon seminai misalnya dimana pohonnya sudah hampir langkah perlu diteliti, mana tau dia memiliki manfaat yang lebih besar bukan saja disektor pangan, tetapi mungkin juga obat-obatan dan kecantikan.  

Buah barangan, tampui, yang tergolong eksotik, buah terab yang dulunya bermanfaat untuk makanan dan kini sudah langkah keberadaanya perlu juga dikembangkan. Jangan - jangan  buah terap lebih memiliki nilai ekonomis dari bunga matahari sebagai cemilan. Buah punak, buah tampui, buah kulim semuanya bernilai ekonomi tetapi keberadaan pohonnya hampir punah juga. Getah keruing, balam merah, jelutung dulunya adalah sumber minyak dan bahan terbaik untuk berbagai keperluan peralatan kehidupan masyarakat dan juga sebagai komunitas perdagangan yang mendunia semuanya harus diberi ruang untuk ikut dilestarikan.
          
Reboisasi yang harus dilakukan bagi TNTN sepatutnya bukanlah sekedar bicara soal kerapatan tanaman, tetapi yang lebih tepat itu adalah menghadirkan tanaman endemik yang hilang. Begitu tanaman tumbuh dan membesar biasanya mereka akan mampu untuk berkembang dan menjadi banyak melalui penyebaran biji yang mereka hasilkan, entah itu oleh binatang atau cara lain. 
       
Mungkin dalam hamparan sepuluh hektar kawasan, cukup ditanami sepuluh pohon dengan jenis yang sama. Karena itu yang perlu dikejar bukan kuantitas tanaman tertentu tetapi keberagaman jenis tanaman.  Melalui langkah seperti ini maka dalam hitungan sepuluh atau dua puluh tahun ke depan kawasan TNTN bukan saja menjadi hutan kembali dengan satu atau dua jenis pohon, tetapi akan menjadi hutan alami dengan puluhan atau ratusan jenis pohon,sekaligus menjadi pusat penelitian dan ekonomi baru yang terbagung bukan dengan merambah hutan, tetapi pemanfaatan hasil hutan, berupa buah, bunga, kulit, getah dan daun.Bukan dari satu jenis, tetapi daru raatusan jenis tanaman hutan.


Penulis: Fahrullazi adalah Sekretaris Pusat Kajian Ketahanan Pangan dan Masyarakat  (PK2PM)


[Ikuti RiauBernas.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar