Tindakan Bullying Yang Terjadi Pada Tingkat Sekolah Dasar

Kekerasan dalam dunia pendidikan banyak fakta yang sudah terjadi. Sekolah dasar kerap terjadi peristiwa bullying. Bullying merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan berbagai perilaku kekerasan yang sengaja dilakukan secara terencana oleh seseorang yang merasa lebih berkuasa terhadap seseorang ataupun sekelompok orang yang merasa tidak berdaya melawan perlakuan ini (Kemenpppa, 2018). Sekolah Dasar (SD) merupakan jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. 
 
Pendidikan dasar di Indonesia merupakan pondasi bagi jenjang pendidikan selanjutnya haruslah berperan dalam membentuk suatu pondasi yang kokoh berkaitan dengan watak serta kepribadian anak khususnya peserta didik. Bentuk perilaku sekolah bullying yang terjadi mulai dari lingkungan pergaulan hingga di lingkungan sekolah sangat beragam.
 
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa pelaku bullying mempunyai intensitas empati yang minim dalam fenomena interaksi sosial. Baik empati maupun perilaku abnormal, perilaku hiperaktif, dan pro-sosial sangat berkaitan dengan respon pelaku ketika dirinya terlibat dengan lingkungan sosial sekitar. 
 
Bullying yang terjadi pada anak-anak mengakibatkan tingginya tingkat depresi, kecemasan, dan bunuh diri ketika dewasa. Tidak hanya itu, mereka bahkan mengalami permasalahan dalam hubungan sosial, kondisi ekonomi yang memburuk, dan rendahnya well-being ketika menginjak usia 50 tahun. Dari segi kesehatan psikis, korban mengalami gangguan kecemasan, gangguan depresi, dan gangguan kepribadian antisosial.
  
Anak usia sekolah dasar termasuk pada tahap usia berkelompok. Mereka berkembang untuk mencapai kematangan dalam hubungan sosial. Pada usia perkembangan, anak akan mempelajari perilaku agresi yang dapat mereka terima sehingga tidak memperhatikan apakah perilaku tersebut benar atau salah secara keseluruhan (Fatimatuzzahro et al. 2017).
 
Pelaku bullying ini menunjukkan perilaku yang mengancam, mengolok-ngolok sampai-sampai korban bullying menangis, mengancam dan memukul hingga keinginannya dipenuhi. Hal inilah yang membuat siswa takut berangkat ke sekolah karena sering di ejek nama orang tuanya, dipaksa ikut membolos dan dipaksa untuk mencuri jajan dikantin sekolah. Siswa-siswi yang menjadi penonton juga berpotensi untuk menjadi pelaku bullying
 
Mayoritas guru menganggap bullying merupakan hal yang lumrah terjadi dalam interaksi antar anak saat bermain dan bagian dari proses pendewasaan seorang anak. Mereka tidak menganggap bullying sebagai perilaku yang bertentangan dengan norma sosial. 
 
Perilaku yang melanggar asusila seperti ini yang membuat mental anak cepat  terganggu atau merusak mental mereka. Untuk mencegah dan mengatasi terjadinya perilaku bullying maka diperlukan upaya pencegahan dan penanganan. Anak hendaknya diberikan penguatan tentang beberapa hal diantaranya : (a) Mampu mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya bullying. (b) Mampu melawan ketika terjadi bullying pada dirinya, dan (c) Mampu memberikan bantuan ketika melihat bullying terjadi (melerai/mendamaikan, mendukung teman dengan mengembalikan kepercayaan, melaporkan kepada pihak sekolah,orang tua, tokoh masyarakat).
 
Dalam penanganan bullying, guru bekerjasama dan berkoordinasi dengan wali murid. Koordinasi dilakukan dalam satu semester biasanya di awal semester dan akhir semester dilakukan untuk memantau perkembangan perilaku peserta didik. Guru harus segera menangani permasalahan hingga tuntas, baik itu penanganan terhadap pelaku, korban, reinforce, dll yang terlibat bullying.
 
Pecegahan tindakan bullying ini akan berhasil apabila seluruh warga sekolah mendukung semua kegiatan yang dapat menghentikan tindakan tersebut. Lingkungan luar sekolah juga berperan penting dalam membentuk nilai-nilai positif dalam masyarakat. 
 
Perilaku bullying seringkali terjadi pada anak usia sekolah terutama anak laki-laki yang biasanya melalui fisik, seperti memukul, berkelahi, dan menendang. Seorang guru harus bisa mengatasi kejadian seperti ini supaya tidak terjadi untuk generasi-generasi berikutnya.
 
 

Penulis : Silvia Qalbi Sasri (236910572). Mahasiswa Universitas Islam Riau.
Dosen Pengampu : Siti Quratul Ain, M.Pd.


[Ikuti RiauBernas.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar