Peran Guru Dalam Pembentukan Karakter Siswa di Era Digital

Pemerintah terus berusaha untuk membangun karakter bangsa, terutama melalui pendidikan. Terkait hal ini, guru sebagai tokoh utama dalam pendidikan, memiliki peran penting dalam membimbing dan mendidik siswa menjadi individu yang cerdas dan berbudi luhur. Jadi kualitas pendidikan di suatu sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan guru. Dalam lingkungan sekolah, guru bertindak sebagai orang tua siswa. Jadi peran guru sangat penting dalam membangun karakter siswa di luar pengaruh lingkungannya.

Lebih lanjut Hardiyana mengatakan, bahwa pendidikan saat ini hanya memberikan aspek intelektual tanpa mempertimbangkan aspek emosional dan spiritual, dan hanya mengejar angka yang menyebabkan banyak kenakalan remaja. Seluruh masyarakat Indonesia khawatir tentang kurangnya nilai moral dan karakter saat ini.

Semua pihak harus memperhatikan pentingnya pengembangan karakter peserta didik di sekolah. Sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk belajar, tetapi juga diharapkan dapat menghasilkan siswa yang cerdas dan berkarakter karena karakter adalah fondasi dari sumber daya manusia. Oleh karena itu, peran guru sangat penting dalam menanamkan karakter kepada siswa.

Oleh karena itu, pendidikan tidak dapat dipisahkan dari peran guru; guru juga merupakan pusat pendidikan. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam membangun siswa yang berkarakter, seperti yang dinyatakan oleh Muslich.

Guru tidak hanya diwajibkan untuk menyampaikan materi, mereka juga diharuskan untuk menjadi guru yang digugu dan ditiru. Guru harus dapat menanamkan prinsip-prinsip seperti moralitas, etika, estetika, dan budi pekerti yang luhur.

Berikut adalah peran guru dalam meningkatkatkan karakter siswa dalam era digital yaitu:

1. Peran Guru Sebagai Teladan. 
Yang dimaksud guru sebagai teladan adalah guru yang dapat memberikan 
contoh kepada peserta didiknya. Misalnya, jika seorang guru berkata, "Anak harus disiplin," maka guru harus disiplin terlebih dahulu. Ini karena satu contoh yang diberikan oleh guru lebih baik daripada seribu saran. Oleh karena itu, peran guru sangat penting.

Zuriah mengatakan, bahwa guru harus mampu memberikan pengetahuan yang tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga dapat mengubah dan membentuk akhlak dan karakter peserta didik sehingga mereka dapat menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan berkarakter. Guru tidak harus otoriter; sebaliknya, mereka harus aktif dan mampu menyerap dan mengembangkan pemikiran-pemikiran, dan reaksi siswa. Dengan cara ini, guru dapat menumbuhkan rasa cinta siswa kepada gurunya dan menciptakan keharmonisan dan keceriaan di kelas.

2. Peran Guru Sebagai Pembimbing.
Guru membantu siswa membentu karakter mereka ke arah yang lebih sesuai dengan tujuan pendidikan, yaitu membentuk siswa menjadi orang yang cerdas, kepribadian yang baik, berakhlak mulia, dan mampu hidup sendiri. Diharapkan siswa 
membentuk karakter yang kuat yang mendukung tujuan pembelajaran yang tercapai melalui bimbingan guru.

Menurut Haniyyah, guru dapat memberikan bimbingan sebagai motivasi untuk meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran. Dengan memberikan angka sebagai simbol atau nilai kegiatan belajar, guru memberikan motivasi kepada siswa untuk mendorong mereka untuk belajar. Hadiah diberikan sebagai penghargaan atas upaya belajar siswa, yang meningkatkan motivasi siswa selama proses pembelajaran. Peran guru dalam membimbing siswa termasuk mematuhi peraturan tata tertib sekolah dan membiarkan siswa belajar hingga pelajaran selesai.

Selain itu, Febrianti mengatakan bahwa dia membantu siswa dengan memberi mereka teguran dan nasehat jika mereka bertindak atau menggunakan kata-kata yang tidak baik, seperti berbicara dengan orang yang lebih tua atau membentak atau bahkan mencela teman sebaya.

3. Peran Guru Sebagai Evaluator.
Dalam kapasitas mereka untuk menilai hasil belajar siswa, guru harus secara konsisten melacak kemajuan mereka. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa meningkat atau menurun, dan untuk mengetahui bagaimana 
pengetahuan yang diterima siswa dari pembelajaran berdampak pada pembentukan karakter yang baik.

Ketika melakukan penilaian kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa, guru 
harus memperhatikan penelian sikap dan karakter siswa. Ini karena penilaian sikap siswa tidak dapat dilakukan satu kali selama satu tahun pembelajatan, sehingga guru dapat mengetahui apakah sikap siswa telah menjadi lebih baik atau tidak.

Menurut Hulu, pendidikan berhasil jika perilaku dan karakter siswa berubah menjadi lebih baik dan lebih manusiawi serta menunjukkan kepribadian yang berkembang menjadi karakter yang berkualitas.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan peran multifaset guru ini menunjukkan betapa pentingnya keteladanan, bimbingan, dan evaluasi dalam menciptakan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Melalui 
keteladanan dan bimbingan yang baik, diharapkan siswa dapat terhindar dari perilaku menyimpang dan tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia.

Oleh karena itu, guru sebagai ujung tombak pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai moral dan etika serta membentuk karakter siswa di era digital yang akan menjadi fondasi bagi pembangunan bangsa di masa depan.

Daftar Pustaka:
Hardiyana, Siti (2014). Pengaruh Guru PKn terhadap Pembentukan Karakter Siswa. Jurnal Ilmiah PPKn IKIPVeteran Semarang.Vol.2(1),54-64.

Muslich, Masnur.(2011). Pendidikan Karakter Menjawab tentang Krisis Multidimensional. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Zuriah, Nurul. (2015). Pendidikan Moral & Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.

Haniyyah, Z., Tinggi, S., Tarbiyah, I., Wutsqo, A.-U., Nurul, J., Sekolah, I., Ilmu, T., Al -Urwatul, T., & Jombang, W. (2021a). Peran guru pai dalam pembentukan karakter islami siswa diSMPN 03 Jombang. In Jurnal Studi Kemahasiswaan.Vol. 1, (1).

Febrianti, C. (2023). Strategi Guru Akidah Akhlak Dalam Membentuk Karakter Religius Siswa. JM2PI: Jurnal Mediakarya Mahasiswa Pendidikan Islam, 4(2), 99-111.

Hulu, Y. (2021). Peran guru dalam pengembangan karakter pada siswa kelas III SD Negeri 071154 Anaoma Kecamatan Alasa. JURIDIKDAS: Jurnal Riset Pendidikan Dasar, 4(1), 18-23.

 

Penulis :

1. Juliatasya Salsabila (236910111).
2. Riska Nurhasanah (236910202).
3. Sri Rahmah (236910505).
4. Tsabitha Alzahrani (236910251).
Mahasiswa Universitas Islam Riau.
Dosen Pengampu : Dea Mustika, SPd, MPd.


[Ikuti RiauBernas.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar