Dukung Penurunan Stunting di Riau, Direktur RAPP Terima Penghargaan Dharma Karya Kencana dari BKKBN

Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Mulia Nauli menerima penghargaan Dharma Karya Kencana (DKK) dari Kepala BKKBN RI, Hasto Wardoyo pada perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (28/6/2024) malam.

SEMARANG - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memberikan penghargaan kepada Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Mulia Nauli atas partisipasi mendorong mewujudkan keluarga berkualitas menuju Indonesia Emas. Penghargaan diserahkan pada perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, pada Jum'at (28/6/2024) malam.

Direktur RAPP Mulia Nauli menerima penghargaan Dharma Karya Kencana (DKK) atas prestasi dan komitmen perusahaan RAPP dalam penurunan stunting melalui program Community Development (CD) dan Corporate Social Responsibility (CSR) di lima kabupaten operasional RAPP, yakni di Siak, Pelalawan, Kampar, Kuantan Singingi, dan Kepulauan Meranti. Penghargaan bergengsi ini diserahkan langsung oleh Kepala BKKBN RI, Hasto Wardoyo.

Dalam sambutannya, Hasto Wardoyo mengapresiasi para kepala daerah dan stakeholder yang berkontribusi dalam pembangunan keluarga, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana, serta penurunan stunting.

Dia juga mengungkapkan, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, angka stunting nasional masih 21,5 persen. BKKBN bersama semua pihak terus berikhtiar untuk menurunkan angka stunting secara serentak.

Hasto menuturkan, ada sejumlah tantangan berat dalam penanganan stunting yang kerap ditemui di lapangan. Ada tiga perilaku yang jadi tantangan utama. Pertama, perilaku kesehatan lingkungan, misalnya, masih ada masyarakat yang buang air besar (BAB) belum pada tempatnya.

"Tantangan lain adalah kesadaran perilaku kesehatan reproduksi. Banyak warga yang berperilaku menikah di usia muda, atau sudah tua tapi masih ingin hamil lagi, maupun jarak antara anak terlalu dekat," tambahnya.

Yang juga menjadi tantangan penanganan stunting, kata Hasto, adalah faktor perilaku pola makan yang masih harus diedukasi. Seperti, masih ada yang makan nasi dengan lauk mi instan, atau mencari ikan kemudian hasilnya dijual dan hasil penjualan untuk beli mi. "Ada pula anak dikasih minum dalam botol dot yang kurang bersih, dan lainnya," jelasnya lagi.

Hasto berharap kehadiran berbagai inovasi yang luar biasa dapat menyasar faktor-faktor yang sensitif dalam rangka penurunan stunting maupun mempercepat kualitas SDM menuju Indonesia Emas 2045

Sementara itu, usai menerima penghargaan, Mulia Nauli mengungkap rasa syukur atas penghargaan yang diberikan oleh BKKBN atas komitmen RAPP selama ini dalam upaya mendukung pemerintah menekan angka stunting di Riau.

"Kita bangga, pada acara Harganas kita menerima penghargaan karena peran aktif kita dalam penurunan stunting. Dan yang terpenting, komitmen perusahaan untuk mendukung target penurunan stunting," ujar Mulia Nauli, pada Sabtu (29/6/2024).

Dengan prestasi tersebut, Mulia Nauli menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung upaya penurunan angka stunting di Riau,  melalui berbagai program, yang menjadi salah satu pilar dalam APRIL2030, yakni Kemajuan Inklusif. Pada pilar ini, perusahaan fokus pada upaya menurunkan prevalensi stunting pada anak balita di Provinsi Riau hingga 50%.

"Kami sampaikan apresiasi setulus-tulusnya kepada semua pihak yang bekerja keras menurunkan stunting di Riau. Ini merupakan hasil kerja keras tim CD dan semua kita yang ikut bersumbangsih dalam penurunan stunting," ujarnya.

Pada acara yang sama, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Riau, Mardalena Wati Yulia, menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diberikan kepada mitra BKKBN atas komitmen terhadap percepatan penurunan stunting di Provinsi Riau. "Dengan adanya penghargaan ini, merupakan bukti komitmen dari pihak-pihak terkait dalam mendukung program Bangga Kencana dan penurunan angka stunting," katanya.

Sebagai informasi tambahan, berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting di Provinsi Riau tahun 2023 berada di angka 13,6 persen. Angka ini jauh dari rata-rata angka stunting nasional yakni 21,5%. (Sam)


[Ikuti RiauBernas.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar