Si Pongi dalam Dada Manggala Agni

Panglima Api di Ujung Bara

Personil Manggala Agni Daops Rengat yang teguh bertahan dalam setiap pemadaman karhutla sampai ujung bara terakhir dipadamkan
Loading...

RENGAT (Riaubernas.com) – Sigap dalam setiap aksi, Penuh motivasi dan berdedikasi, tanpa pamrih berloyalitas tinggi. Inilah wujud dari pengabdian sejati dari sang penakluk api, yang menjadi garda terdepan dari setiap pengendalian bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di tanah zamrud khatulistiwa ini.

Di lahirkan sebagai panglima api, para personil Manggala Agni ditempa dengan kedispilinan tinggi untuk menjadi ksatria penakluk api yang siap berberjibaku dan tak goyah berpijak di bara menyala.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dibawah Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Karhutla, Manggala Agni membentuk pribadi pribadi mumpuni yang siap mengawal setiap jengkal negeri ini dari ancaman karhutla.

Andrean, pria kelahiran Rengat 29 tahun silam menjadi salah satu dari sekian ribuan penjinak api, yang di gembleng untuk menjadi pejantan tangguh penjaga paru paru bumi.

Di Daerah Operasional (Daops) Rengat, bersama 52 orang rekan seperjuangannya, Andrean telah mewakafkan segenap jiwa dan raga serta hatinya untuk ibu pertiwi, dibawah panji Manggala Agni.

Ketika pertama kali mendaftarkan diri sebagai personil Manggala Agni, Andrean sadar betul bahwa tugas dan tangung jawab berat akan di pikulnya, mengendalikan api dan mencegah terjadinya karhutla akan menjadi rutinitas hariannya kelak. Hal yang sama tentu juga di rasakan oleh rekan seperjuangan lainnya.

Ketua regu 1 Daops Rengat ini menuturkan, bahwa sebagai bagian dari korp Manggala Agni, setiap personil harus menanamkan dalam dirinya semangat Si Pongi, si Orang Utan yang menjadi logo dan simbul dari sebuah pengabdian para penakluk penakluk api Manggala Agni.

"Di setiap seragam para personil Manggala Agni terdapat gambar segi empat yang didalamnya ada Orang Utan, itu logo kita (Manggala Agni red), Orang Utan itu namanya si Pongi dari Kalimantan," tutur Andrean memulai penjelasannya tentang asal muasal logonya Manggala Agni

Berkisah Andrean, pada kebakaran yang maha hebat di hutan Kalimantan tahun 1998 silam, segerombolan Orang Utan terperangkap dalam kepungan asap tebal dan api yang panas membara, se ekor induk betina melihat celah untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya, ketika upaya nya keluar dari kepungan asap tadi berhasil, tidak lantas membuatnya kegirangan dengan berlari kencang, berlonjatan ke sana kemari.

Induk betina itu malah terdiam sejenak, penduduk setempat mengiranya kelelahan, namun, si induk betina tadi malah memutar balik badannya dan kembali ke kepungan asap tebal dalam lingkaran api yang membumbung tinggi. Ia kembali ke gerombolannya, menuntun yang lainnya ke jalan keluar yang di temukannya.

"Induk betina Orang Utan ini berpikir bahwa jika dia menyelamatkan dirinya sendiri, maka Orang Utan akan punah di Kalimantan, tapi tidak, dia putar badannya ke belakang, berlari ke kepungan asap guna menyelamatkan seluruh kelompoknya, semua anggota kelompok Orang Utan ini berhasil diselamatkan, sayang sang induk betina terkapar di tengah asap, nyawanya di korbankannya untuk menyelamatkan keberlangsungan Orang Utan di hutan Kalimantan. Masyarakat setempat menyebut sang induk betina ini si Pongi," kisah Andrean

Untuk mengabadikan semangat si Pongi ini, setiap institusi yang bertugas menaklukkan api dalam menangani karhutla memakai simbol Orang Utan Kalimantan pemberani itu untuk menyemangati personil agar memberikan pengabdian terbaiknya untuk negeri.

"Apa yang kita lakukan hari ini, adalah sebuah upaya nyata kita menyelamatkan negeri, menyelamatkan generasi dimasa mendatang, jangan sampai apa yang kita lakukan tidak lebih baik dari apa yang dilakukan si Pongi untuk kelompoknya, bagi kami, bagi Manggala Agni adalah sebuah kegagalan dalam tugas," tegasnya

Semangat itulah yang telah terpatri dalam sanubari personil Manggala Agni, menjadi si Pongi sejati dan selalu menempatkan diri, tetap berpijak di ujung bara. Menjadi orang terakhir yang yang angkat kaki dari lokasi pemadaman api.

"Dari semangat si Pongi itu, di setiap tugas dalam menjinakkan api, kita di tuntut tetap berada di lokasi sampai bara terakhir kita padamkan," katanya

Menjadi seseorang yang selalu berada di barisan terdepan dalam setiap bencana karhutla, menempatkan diri dalam lingkaran ancaman itu sendiri, personil Manggala Agni di tuntut harus terlebih dahulu mengenali dirinya sendiri, dan harus tahu alasan kenapa mereka di sebut Manggala Agni.

Andrean menjelaskan, Manggala Agni berasal dari bahasa sansekerta, Manggala artinya Panglima, dan Agni artinya api, paduan kata ini memberi pengertian sebagai panglima api, yang dalam makna yang lebih luas sebagai pengendali api.

"Bagaimana api itu di kendalikan, bisa dengan mencegah, meminimalisir dampak areal kebakaran dan memadamkan api adalah tugas tugas pengendalian yang dilakukan Manggala Agni, jika ada api, personil Manggala Agni harus jadi panglima, harus bisa mengendalikan api," jelasnya

Pengorbanan si Pongi menjadi pelecut semangat bagi seluruh personil Manggala Agni di seluruh wilayah tugas tanah air, Di markaz Daops Rengat saja, ada 52 personil yang siap berjaga 24 jam menjaga setiap jengkal wilayah kerjanya dari ancaman si jago merah yang jadi momok menakutkan di negeri ini kini. Mereka mengabdi, mereka menaklukkan api, mereka jadi si Pongi untuk negeri.

“Kami harus jadi si Pongi, semangat si Pongi itu harus menjadi motivasi kita dalam memberikan pengabdian terbaik kita untuk negeri ini,”tegasnya

Pejantan tangguh di Posko Pangkalan Kerinci

Bergeser 200 km ke sebelah barat dari markas Daops Rengat, Enam pejantan tangguh lain di tugaskan di Posko perwakilan Pangkalan Kerinci, di jantung ibu kotanya Kabupaten Pelalawan, di negeri seiya sekata ini, pejantan - pejantan tangguh ini tetap menjalankan pengabdian yang sama, tanggung jawab dan motivasi yang sama dengan para kampatriotnya di markas Daops Rengat.

Tim kecil ini di ketuai oleh Maidi, namun memiliki tanggung jawab yang besar dalam pengendalian karhutla atas wilayah dengan luas 13. 924,94 km persegi. Tentu mereka tidak sendiri, ada institusi lain yang terus menjalin koordinasi dan komunikasi terkait pengendalian karhutla, seperti BPBD Kabupaten Pelalawan, Polres Pelalawan, Koramil – koramil se Kabupaten Pelalawan, tim damkar perusahaan dan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang ada di setiap desa. Pun tidak pula luput dari garis komando Kepala Daops Rengat.

Keberadaan Posko Manggala Agni di Kabupaten Pelalawan belum lah lama, baru satu bulan terakhir Maidi cs stay di Pangkalan Kerinci, selama ini mereka hanya datang ke daerah tetangga ini saat bencana terjadi, meski begitu, geografis negeri seiya sekata tidak pula asing bagi mereka dan personil personil Manggala Agni lain di Daops Rengat, mereka sudah beberapa kali di tugaskan di wilayah Kabupaten Pelalawan dalam pemadaman karhutla saat kebakaran mendera.

“Kalau Posko Pangkalan Kerinci, baru satu bulan kita di stay disini, ada enam personil yang ditugaskan di posko ini, tapi sebelum adanya posko ini, kami sudah sering mendapat tugas pemadaman karhutla di Kabupaten Pelalawan, seperti kebakaran besar di Teluk Meranti tahun 2015, selain itu juga pernah ikut dalam pemadaman di Kerumutan, Tanjung Putus Pangkalan Kerinci, di Langgam dan hampir setiap ada karhutla di Pelalawan kita turun dari Daops Rengat,” kata Ketua Tim Posko Pangkalan Kerinci Maidi.

Saat menceritakan pengalamannya dalam bertugas, Maidi berkisah tentang kerapnya bahkan sudah terasa biasa bagi personil Manggala Agni berhadapan langsung dengan bencana karhutla, tugas mulia ini harus pula bersentuhan langsung dengan ancaman bahaya terhadap nyawa personil itu sendiri. Medan yang sulit di jangkau, jalan yang sulit dilalui, cuaca yang tidak bersahabat, angin puting yang berputar kencang serta dukungan sumber bahan bakar (pakis seresah dan gambut kering) menjadi penyebab meluasnya kobaran api.

Kondisi demikian memaksa mereka harus terus berjibaku tanpa henti untuk memadamkan api, dan kadang api itu mengepung dari segala sisi. Disiplin yang tinggi serta tetap fokus menjadi kunci sukses dari setiap aksi yang dilakukan. Semangat kebersamaan tim menjadikan segalanya menjadi ringan.

“Setiap personil berhutang nyawa kepada anggota tim lainnya, karena kebersamaan itu lah menjadikan tugas kami itu ringan. Karena semangat tim pula lah kami bisa menyelesaikan tugas dengan selamat. Fokus dengan apa yang dihadapi dan menjalankan Standar Operasion Prosedur (SOP) dengan benar serta menjunjung displin, itulah kuncinya, sampai saat ini kami masih bisa menjalankan tugas di Manggala Agni.”imbuh Maidi

Dilanjutkannya, pernah dalam satu aksi pemadaman kerhutla di Teluk Meranti, jauhnya lokasi kebakaran dengan pemukiman penduduk, membuat perjuangan para pejuang pejuang karhutla semakin berat, pengiriman logistik menjadi lebih sulit. Kadang harus berteduh di kamp seadanya dari dinginnya angin malam. Namun itu tetaplah tantangan yang harus di lewati bukan menjadi penghalang untuk tidak kembali melanjutkan tugas suci.

“Sering kita jumpai tugas tugas seperti itu, lokasi pemadaman jauh dari pemukiman penduduk, maka kita dirikan tenda di tengah hutan, untuk minum kadang dari air kanal yang dimasak. Untungnya kita sudah di latih untuk survive di hutan,” akunya

Secara hakiki, Maidi dan rekannya Andrean serta seluruh penakluk api lainnya tetap seorang manusia biasa, memiliki keluarga dan orang orang tercinta yang setia menunggu dengan penuh kecemasan di rumah. Ada yang baru hitungan hari mengikat janji suci (pernikahan) saat tugas memanggil, ada pula yang baru hitungan jam berbahagia dianugerahi si buah hati mungil pelengkap hidup terlahir ke dunia. Semua di tinggalkan demi tugas, demi Manggala Agni, demi ibu pertiwi, demi paru paru bumi.

Tidak mudah memisahkan antara tugas dan perasaan, namun pengalaman dan kematangan lah yang menjadikannya berbeda, memberikan pengertian dan pemahaman kepada orang terkasih, ketulusan mereka memotivasi dan menginspirasi dalam setiap tugas yang diemban.

“Istri saya sudah paham betul tugas dan tanggung jawab suaminya, kadang baru saja pulang ke rumah, sudah dapat telpon lagi karena ada kebakaran besar terjadi, dengan tulus dia (istri red) melepas saya, dipersiapkannya kebutuhan saya, dia tahu suaminya akan berhadapan dengan bencana, bibirnya mengucapkan “hati hati yah” namun dari matanya tetlihat jelas ada kecemasan, ketika pergi, saya mengatakan bahwa saya akan baik baik saja, saya akan pulang seperti saat melewati tugas tugas yang pernah dilakukan sebelumnya, saya tetap meyakinkannya, saya akan pulang demi dia dan si buah hati kami,” kisahnya

Di lapangan, tidak pula 24 jam tanpa henti berjibaku dengan api, walau kadang api itu membutuhkan berhari hari untuk memadamkannya, faktor kebugaran dan kesehatan personil tetap pula diutamakan, dukungan dari institusi lain memberikan waktu untuk bernafas dalam jeda. Memulihkan stamina yang terkuras, mengembalikan kondisi fisik dari penat dan lelah.

“Waktu istirahat tiba, kita manfaatkan untuk menelpon istri, mengabarinya bahwa suaminya baik baik saja, bertanya kabar tentang si kecil, rindu itu indah, tugas itu suci. Semoga semua yang kami lakukan, yang istri istri kami ikhlaskan bernilai ibadah,” ujar Maidi dalam nada lirih.

Dalam penuh keyakinan diri, setiap personil yang ditugaskan dalam aksi pemadaman api, mereka sudah sangat terlindungi. Dikatakan Maidi, tersebab yang di embannya itu tugas mulia, tentu Allah SWT akan melindungi hamba hamba nya yang menjalankan tugas mulia itu, perlindungan satu lagi datang dari apa yang mereka pegang sendiri, yakni selang air. Mereka memiliki sumber air yang siap memadam api.

“Sebenar nya kita sudah sangat terlindungi, kita di lindungi oleh sang pencipta kita, Allah SWT, yang akan kita selamatkan juga ciptaannya, dan satu lagi, yang melindungi kita adalah slang air di tangan kita, api itu akan padam dengan air,”ujarnya sembari mengatakan bisa jadi musibah yang datang tak terelakkan terjadi, seperti kejadian kebakaran di Rohil baru baru ini yang menewaskan seorang prajurit TNI, itu semua tidak terlepas dari kehendak Allah SWT. “Kejadian itu sudah menjadi ketetapan oleh Allah, tidak ada yang bisa mengelak dari ketetapan itu, kita hanya bisa mengambil hikmahnya saja,” bebernya

Srikandi Mumpuni Manggala Agni

Manggala Agni tak hanya memiliki pejantan pejantan tangguh, ada juga sirkandi srikandi mumpuni, bara tak memadamkan semangat mereka, api tak menghanguskan nyali mereka. Di korp Panglima api ini, mereka bukan pemain di belakang layar, bukan pula pemain figuran untuk melengkapi peran pria di lapangan, atau sekedar pemanis cerita dari bidikan kamera para pemburu berita. Mereka juga si Pongi sejati. Beremansipasi untuk negeri.

Di Daops Rengat, empat orang mencatatkan diri sebagai srikandi Manggala Agni, ada nama Nitra Melda Wati, Elpa Yetti, Leni Susanti dan Marda Fitri. Keempat kartini penakluk api ini mengambil peran sama dengan apa yang dilakukan oleh pejantan tangguh rekan kerjanya. Saat bencana karhutla melanda, bantuan personil dari Daops Rengat di turunkan, takkala kejadian bersamaan dengan waktu jaga para srikandi ini, mereka turun dengan jiwa korsa yang sama. Motivasi yang sama dan pengabdian yang sama pula.

Di lapangan mereka juga mengambil peran yang tidak berbeda dengan rekan pria, slang dan pompa air menjadi senjata pemungkas, mengejar dan memadamkan kepala api, memutuskan sumber bahan bakar agar kebakaran tidak meluas. Urutan tugas dalam SOP sudah diluar kepala di kuasai srikandi Manggala Agni. Profesionalisme tak diragukan lagi.

“Kalau di lapangan, dilokasi kebakaran, tugas kita yang perempuan ini sama seperti yang laki laki, kami juga pegang slang dan pompa air, kami ikut memadamkan api di tengah hutan, di tengah gambut dan belukar, sama semua, tak ada yang beda.” Terang Nitra Melda Wati

Bahkan, tugas para srikandi ini bertambah tak kala jam istirahat menjelang, mereka membantu menyiapkan masakan untuk seluruh personil yang bertugas di lapangan. Selesai santap bersama dan beres beres peralatan makan, srikandi ini pun bersiap pula untuk tugas pemadaman seperti biasa.

“Kita juga bantu untuk kebutuhan makan personil di lapangan, kita bantu masak, itu kan tugas biasa bagi perempuan, setelah itu kita kembali ke tugas yang sama, memadamkan api,” tutur Melda

Sebagai seorang wanita sejati, Melda tak menampik memiliki tanggung jawab kodrati, di rumah dia menjalankan tugas layaknya seorang istri dan ibu dari anak anaknya terkasih. Sikapnya yang tangguh di lapangan tak berarti ia kehilangan sentuhan kasih sayang di rumah. Di balik jiwa penakluk apinya, ada kelembutan hati dalam pribadi keibuannya.

“Di rumah, saya seorang istri, dan seorang ibu. Alhamdulillah selama ini antara tugas dan tanggung jawab sebagai istri dan ibu dari anak anak bisa dibagi dengan baik. Tidak ada masalah, kami saling menyayangi di rumah, saling mengerti pekerjaan masing masing,” jelasnya

Melda beruntung, sang belahan hati, imamnya dalam keluarga mengerti benar tugas apa yang diemban istrinya, sebelum cinta bersemi, sebelum memproklamirkan jadi sejoli, sebelum janji suci terpatri, mereka adalah rekan kerja di Manggala Agni. Mereka disatukan oleh air dan api. Oleh semangat si Pongi.

Namun tuntutan profesionalisme yang membatasi pasangan suami istri dalam tugas yang sama di Manggala Agni, salah satu harus mengalah, resign dari korp yang dicintainya. Suami dari Melda pun mengundurkan diri mencari profesi lain, sedangkan ia tetap bertahan sebagai srikandi penakluk api.

“Kalau suami sudah faham, dulunya suami juga anggota Manggala Agni, paling dia titip pesan agar hati hati dalam bertugas,” imbuhnya

Sementara itu, Kepala Manggala Agni Daops Rengat, Ismail Hasibuan mengatakan bahwa Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang dipimpinnya itu bertanggung jawab terhadap wilayah kerja yang meliputi empat kabupaten, Kabupaten Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Pelalawan dan Kabupaten Kuantan Sengingi.

Total luas wilayah empat kabupaten yang termasuk wilayah kerja Daops Rengat dengan luas 39.964,24 km persegi, dengan luas wilayah kerja sebesar itu dengan personil berjumlah 52 orang yang siap siaga kapan saja tugas memanggil.

“Kita membawahi empat kabupaten, dengan luas keseluruhan hampir mencapai empat puluh ribu kilometer persegi, dengan luas wilayah kerja sebegitu besar. Saat ini kita memiliki 52 personil yang siap siaga di segala situasi," jelasnya

Untuk wilayah kerja seluas itu, harusnya ada tambahan dua atau tiga kali lipat personil lagj. Apalagi wilayah kerja di Riau khususnya Daops Rengat dengan sebaran wilayah tugas di empat kabupaten yang menjadi langganan kargutla di musim kemarau tiba.

"Wilayah kerja kita adalah daerah daerah yang rawan terjadi karhutla. Selalu ada karhutla saat musim kemarau. Apalagi Kabupaten Pelalawan yang paling rawan diantara tiga wilayah kerja lainnya, berdasarkan managemen pengendalian karhutla, kita masih butuh personil tambahan," akunya

Kekurangan personil tak menciutkan nyali tim dalam menghadapi bencana. Diakui Ismail, semangat korsa menambah rasa bangganya atas kinerja anak buahnya menaklukkan karhutla.

"Sebagai Kadaops, saya merasa sangat bangga dengan dedikasi yang di tunjukkan personil di lapangan, totalitas mereka dalam bekerja menutupi kekurangan personil yang kami alami," bebernya

Ismail berharap, adanya kerjasama seluruh institusi dan seluruh elemen masyatakat untuk bersama sama melakukan upaya pencegahan terhadap terjadinya karhutla. Dengan upaya ini, akan meminimilisir ancaman ancaman karhutla di negeri yang di cintai ini.

"Kalau karhutla dapat kita cegah, maka energj kita dapat kita salurkan untuk pembangunan, masyatakat pun dapat terbantu dalam peningkatan ekonomi keluarga, itu satu dari banyak keuntungan dari upaya pencegahan karhutla," pungkas Ismail.

Penulis : Apon Hadiwijaya

 


Loading...

[Ikuti RiauBernas.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar