Ini 7 Negara Yang Digulingkan Amerika

Int.
Loading...

RIAUBERNAS.COM - Badan Intelijen Amerika (CIA) telah banyak terlibat dalam politik negara lain, bahkan sampai menggulingkan suatu pemerintahan. Era kudeta CIA dimulai dengan – setidaknya terlihat demikian – tiba-tiba, dan diawali di Iran. Sejauh ini laporan CIA yang sudah dideklasifikasi, ada 7 pemerintahan yang telah digulingkan oleh CIA atas nama Amerika Serikat.

Dilansir dari www.matamatapolitik.com, era kudeta yang didukung CIA muncul dengan dramatis: Seorang jenderal Amerika terbang ke Iran dan bertemu dengan “teman lama”; beberapa hari kemudian, Syah Iran memerintahkan Perdana Menteri Mohammed Mossadegh untuk mundur. Ketika militer Iran ragu-ragu, jutaan dolar disalurkan ke Teheran untuk membeli pendukung Mossadegh dan membiayai protes jalanan.

Militer, mengakui bahwa keseimbangan kekuasaan telah goyah, merebut kursi perdana menteri, yang akan menjalani sisa hidupnya di bawah tahanan rumah. Itu adalah seperti yang dikatakan oleh sejarah CIA, “operasi Amerika dari awal hingga akhir,” dan salah satu dari banyak kudeta yang didukung Amerika Serikat akan terjadi di seluruh dunia selama paruh kedua abad ke-20.

Beberapa pemimpin nasional, diktator maupun tokoh-tokoh yang terpilih secara demokratis, terperangkap di tengah-tengah Perang Dingin AS-Soviet—sebuah posisi yang pada akhirnya membuat mereka kehilangan jabatan mereka (dan, bagi sebagian orang, hidup mereka) ketika CIA mencoba memasang “orang mereka” sebagai kepala negara.

Pemerintah AS sejak itu secara terbuka mengakui beberapa tindakan rahasia ini; bahkan, peran CIA dalam kudeta tahun 1953 baru saja dideklasifikasi minggu ini. Dalam kasus lain, keterlibatan CIA masih dicurigai.

Warisan keterlibatan rahasia AS dalam tujuh kudeta yang berhasil di bawah ini (belum termasuk sejumlah intervensi militer AS terhadap rezim musuh dan pemberontakan yang didukung AS dan percobaan pembunuhan yang gagal, termasuk rencana untuk membunuh Fidel Castro dengan cerutu yang meledak), telah membuat tangan rahasia Amerika Serikat menjadi momok di ketegangan politik saat ini. Bahkan sekarang, meskipun pengaruh AS di pemerintahan Mesir memudar, ada teori konspirasi yang menunjukkan bahwa Ikhwanul Muslimin dan pemerintah yang didukung militer bersekongkol dengan Amerika Serikat.

Berikut adalah sejarah singkat dari kasus-kasus kampanye kudeta CIA di seluruh dunia yang telah terkonfirmasi.

1. IRAN, 1953
Meskipun ada spekulasi tentang peran CIA dalam kudeta 1949 untuk memasang pemerintahan militer di Suriah, penggulingan Perdana Menteri Iran Mohammed Mossadegh adalah kudeta awal Perang Dingin yang diakui pemerintah AS. Pada tahun 1953, setelah hampir dua tahun masa kepemimpinan Mossadegh, selama waktu itu ia menantang otoritas Syah dan menasionalisasi industri minyak Iran yang sebelumnya dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan Inggris, ia dipaksa turun dari kepemimpinannya dan ditangkap, kemudian menghabiskan sisa hidupnya di bawah tahanan rumah.

Menurut sejarah CIA mengenai operasi itu yang baru saja dideklasifikasi, “Itu adalah kesempatan … untuk membiarkan Iran terbuka terhadap agresi Soviet—pada saat Perang Dingin memuncak dan ketika Amerika Serikat terlibat dalam perang di Korea melawan pasukan yang didukung oleh Uni Soviet dan China—yang memaksa Amerika Serikat untuk membatalkan perencanaan dan pelaksanaan TPAJAX (nama kode operasi kudeta).”

2. GUATEMALA, 1954
Meskipun Amerika Serikat pada awalnya mendukung Presiden Guatemala Jacobo Árbenz—Kementerian Luar Negeri merasa kenaikannya ke tampuk kekuasaan melalui militer yang terlatih dan bersenjata AS akan menjadi aset—hubungan tersebut memburuk ketika Árbenz mencoba serangkaian reformasi pertanahan yang mengancam kepemilikan United Fruit Company milik AS. Sebuah kudeta pada tahun 1954 memaksa Árbenz turun dari kekuasaan, memungkinkan suksesi junta menggantikannya.

Rincian rahasia keterlibatan CIA dalam penggulingan pemimpin Guatemala, termasuk mempersenjatai pemberontak dan pasukan paramiliter saat Angkatan Laut AS memblokade pantai Guatemala, terungkap pada tahun 1999.

3. KONGO, 1960
Patrice Lumumba, perdana menteri pertama Kongo (dulunya disebut Republik Demokratik Kongo), diusir dari jabatannya oleh Presiden Kongo Joseph Kasavubu di tengah intervensi militer Belgia yang didukung AS. Intervensi itu adalah upaya untuk mempertahankan kepentingan bisnis Belgia setelah dekolonisasi negara itu. Tetapi Lumumba berhasil mempertahankan oposisi bersenjata terhadap militer Belgia dan, setelah meminta bantuan Uni Soviet, ia menjadi sasaran CIA begitu CIA menentukan bahwa dia adalah ancaman bagi pemerintah Joseph Mobutu yang baru dipasang.

Komite Gereja, sebuah komisi beranggotakan 11 senator yang dibentuk pada tahun 1975 untuk memberikan pengawasan terhadap tindakan rahasia komunitas intelijen AS, menemukan bahwa CIA “terus menjaga hubungan dekat dengan orang-orang Kongo yang ingin membunuh Lumumba,” dan bahwa “petugas CIA menawarkan bantuan untuk orang-orang Kongo ini dalam upaya mereka melawan Lumumba.”

Setelah gagalnya percobaan pembunuhan Lumumba menggunakan sapu tangan beracun, CIA menyiagakan pasukan Kongo di lokasi Lumumba dan memblokir beberapa jalan dan kemungkinan rute pelarian. Lumumba ditangkap pada akhir 1960 dan dibunuh pada Januari tahun berikutnya.

4. REPUBLIK DOMINIKA, 1961
Kediktatoran brutal Rafael Trujillo, yang mencakup pembersihan etnis ribuan warga Haiti di Republik Dominika dan percobaan pembunuhan presiden Venezuela, berakhir ketika ia disergap dan dibunuh oleh para pembangkang politik bersenjata. Meskipun pria bersenjata yang menembak Trujillo menyatakan bahwa, “Tidak ada yang menyuruh saya untuk membunuh Trujillo,” dia sebenarnya mendapat dukungan dari CIA.

Komite Gereja menemukan bahwa “Dukungan material, yang terdiri dari tiga pistol dan tiga karabin, disuplai ke berbagai pembangkang …. Pejabat Amerika Serikat tahu bahwa para pembangkang bermaksud menggulingkan Trujillo, mungkin dengan pembunuhan …”

5. VIETNAM SELATAN, 1963
Amerika Serikat telah lama terlibat di Vietnam Selatan pada 1963, dan hubungannya dengan pemimpin negara itu, Ngo Dinh Diem, semakin menegang di tengah tindakan keras Diem terhadap para pembangkang Buddha. Menurut Pentagon Papers, pada 23 Agustus 1963, para jenderal Vietnam Selatan yang merencanakan kudeta menghubungi pejabat AS tentang rencana mereka.

Setelah periode persiapan ditambah periode keragu-raguan AS, para jenderal menangkap dan membunuh Diem pada 1 November 1963 dengan dukungan AS, yang menurut beberapa pengakuan dukungan itu datang dalam bentuk dana sebesar $40.000.

“Untuk kudeta militer terhadap Ngo Dinh Diem, AS bertanggung jawab penuh,” menurut pernyataan Pentagon Papers. “Mulai bulan Agustus 1963 kami bersama berbagai pihak memberi wewenang, memberi sanksi, dan mendorong upaya kudeta para jenderal Vietnam dan menawarkan dukungan penuh bagi pemerintah penerus…. Kami menjaga hubungan klandestin dengan mereka selama perencanaan dan pelaksanaan kudeta dan berusaha meninjau rencana operasional mereka dan mengusulkan pemerintahan baru. ”

6. BRASIL, 1964
Khawatir bahwa pemerintah Presiden Brasil Joao Goulart akan, seperti kata Duta Besar AS Lincoln Gordon, “menjadikan Brasil seperti China di tahun 1960-an,” Amerika Serikat mendukung kudeta tahun 1964 yang dipimpin oleh Humberto Castello Branco, yang saat itu menjabat sebagai kepala staf tentara Brasil. Pada hari-hari menjelang kudeta, CIA mendukung demonstrasi jalanan yang melawan pemerintah dan menyediakan bahan bakar dan “senjata yang bukan berasal dari AS” bagi mereka yang mendukung militer.

Baca juga: Masih Bisakah Amerika Serikat Mempromosikan Demokrasi di Asia?

“Kita harus mengambil setiap langkah semampu kita, bersiaplah untuk melakukan segala hal yang perlu kita lakukan,” Presiden Lyndon Johnson mengatakan kepada penasihatnya yang merencanakan kudeta, menurut catatan pemerintah yang tidak terklasifikasi, yang diperoleh Arsip Keamanan Nasional. Militer Brasil lalu melanjutkan pemerintahan negara itu sampai tahun 1985.

7. CHILI, 1973
Amerika Serikat tidak pernah menginginkan Salvador Allende di kursi kekuasaan. Allende adalah kandidat sosialis yang terpilih sebagai presiden Chili pada tahun 1970. Presiden Richard Nixon mengatakan kepada CIA untuk “membuat ekonomi [Chili] menjerit,” dan CIA bekerja dengan tiga kelompok Chili, masing-masing merencanakan kudeta terhadap Allende pada tahun 1970. CIA telah menyediakan senjata untuk mereka, tetapi rencana itu gagal setelah CIA kehilangan kepercayaan proxy-nya.

Upaya AS untuk mengganggu ekonomi Chili berlanjut sampai Jenderal Augusto Pinochet memimpin kudeta militer terhadap Allende pada tahun 1973. Pengakuan resmi CIA tentang perebutan kekuasaan pada 11 September 1973, mencatat bahwa CIA “sadar akan kudeta oleh militer tersebut dan menjaga hubungan intelijen secara terus-menerus dengan beberapa komplotan, dan—karena CIA tidak mengecam pengambilalihan kekuasaan tersebut dan telah berusaha untuk memicu kudeta pada tahun 1970—mungkin membiarkan kudeta itu terjadi.”

CIA juga melakukan kampanye propaganda untuk mendukung rezim baru Pinochet setelah ia menjabat pada tahun 1973, meskipun mengetahui pelanggaran berat hak asasi manusia yang telah ia lakukan, termasuk pembunuhan para pembangkang politik. (*)


Loading...

[Ikuti RiauBernas.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar