APRIL Menekankan Komitmennya Terhadap Nature Based Solutions

Nadine Zamira Syarief, Sustainability and ESG Manager APRIL Group memaparkan komitmen APRIL terhadap Solusi Berbasis Alam (Nature Based Solutions) untuk menciptakan iklim positif sebelum tahun 2030.

JAKARTA, RIAUBERNAS.COM - Kemunculan istilah Solusi Berbasis Alam (Nature based Solutions) sebagai strategi penting untuk mengatasi perubahan iklim, melindungi ekosistem, mencegah hilangnya keanekaragaman hayati, dan menunjang mata pencaharian . Nature based Solutions (NbS) mencakup serangkaian tindakan seperti perlindungan dan pemulihan hutan dan ekosistem alami lainnya serta peningkatan pengelolaan lahan produktif.
              
Namun, penerapan NbS memerlukan pendanaan besar, dukungan teknis, serta kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Indonesia, dengan keanekaragaman hayati dan sumber daya alamnya yang kaya, memiliki posisi yang baik untuk memainkan peran kepemimpinan dan mendapat manfaat dari inisiatif NbS.  
             
Pada konferensi Net-Zero with Nature-based Solutions yang baru-baru ini diselenggarakan oleh CMT, Nadine Zamira Syarief, Sustainability and ESG Manager APRIL Group, menjelaskan bagaimana APRIL berinvestasi dalam inisiatif NbS untuk memberikan dampak jangka panjang dan positif terhadap iklim, alam, dan manusia yang sejalan dengan komitmen dan target APRIL2030 . Perwakilan dari PEFC International, Sime Darby, Asian Development Bank (ADB), Tata Steel dan Natura & Co juga hadir di sesi panel, di mana mereka berbagi dan mendiskusikan pendekatan mereka terhadap Solusi Berbasis Alam.


  
Nadine Zamira Syarief, Sustainability and ESG Manager APRIL Group, berbicara di konferensi the Net-Zero with Nature-based Solutions.
             
Nadine menekankan pentingnya mendasarkan inisiatif NbS pada ilmu pengetahuan yang kredibel dan relevan dengan konteks untuk menginformasikan intervensi manajemen terbaik dan menselaraskannya dengan strategi bisnis yang lebih luas. Grup APRIL telah berinvestasi pada empat menara dan peralatan pemantauan gas rumah kaca (Green House Gas Tower)) untuk memahami secara penuh dinamika emisi di lahan plantation yang dikelola APRIL, serta memungkinkan perusahaan untuk berkontribusi pada pengetahuan ilmiah secara nasional dan global.

Sejak berinvestasi pada menara pertama di tahun 2016, para peneliti APRIL telah bekerja sama dengan komunitas ilmiah yang lebih luas untuk mempublikasikan studi yang telah melalui proses tinjauan sejawat mengenai ekosistem lahan gambut tropis berdasarkan data yang telah dikumpulkan.
             
Selain kontribusi ilmiah, Grup APRIL juga telah melakukan berbagai upaya konservasi dan restorasi yang berkontribusi terhadap upaya mitigasi. Terobosan inisiatif NbS yakni Restorasi Ekosistem Riau (RER), merupakan proyek restorasi ekosistem yang mencakup lebih dari 150.000 hektar di Semenanjung Kampar di Indonesia yang dimulai pada tahun 2013. Proyek RER bertujuan untuk merestorasi hutan lahan gambut yang terdegradasi dan melindungi keanekaragaman hayati, serta memberikan manfaat bagi masyarakat setempat seperti peluang mata pencaharian.

Komitmen Grup APRIL untuk melakukan konservasi dan restorasi didukung oleh dana konservasi yang dibiayai dengan menerapkan alokasi USD$1 untuk setiap ton kayu yang dipanen. “Dari pengalaman kami, penting untuk mendasarkan solusi berbasis alam pada ilmu pengetahuan yang kredibel, bekerja sama dengan masyarakat setempat dan memposisikan mereka sebagai penerima manfaat dan pelaku, serta menghubungkan solusi ini dengan bisnis untuk memastikan pembiayaan jangka panjang dan keberlanjutannya," kata Nadine dalam acara tersebut.
             
Nadine juga membahas komitmen APRIL terhadap pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, khususnya dalam mencegah dan menanggulangi kebakaran di luar operasinya sendiri. Program Desa Bebas Api perusahaan mengatasi risiko kebakaran di lanskap yang lebih luas dan bekerja untuk mencegah kebakaran melalui keterlibatan masyarakat, menyediakan program agribisnis, dukungan operasional, dan transfer pengetahuan tentang pencegahan kebakaran. 

Sejak dimulainya program pada tahun 2015, telah terjadi pengurangan hingga 90 persen luas lahan yang terbakar di desa-desa di mana intervensi dilakukan sehingga mencegah jutaan ton karbon terlepas ke atmosfer. Selain itu, APRIL telah membangun hubungan dengan masyarakat melalui program Desa Bebas Api, dan hubungan ini telah berkembang hingga mencakup program konservasi masyarakat. Program ini membantu masyarakat menjaga tegakan hutan alam di desa mereka dan menggunakan model keterlibatan yang serupa dengan program Desa Bebas Api. 
                
Dengan komitmennya terhadap pengelolaan, perlindungan, dan restorasi lahan yang bertanggung jawab, APRIL Group mengambil langkah penting untuk mencapai tujuan keberlanjutannya sambil memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat setempat. 
Melalui inisiatif seperti Restorasi Ekosistem Riau (RER), APRIL berkomitmen untuk mempromosikan praktik pengelolaan hutan berkelanjutan dan perlindungan lingkungan.

Secara terpisah pada acara yang sama, Addriyanus Tantra, SFM Certification and Compliance Manager, Sustainability Operations APRIL menekankan bahwa pengelolaan hutan lestari telah menjadi bagian integral dari operasi bisnis APRIL yang berpedoman pada Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan 2.0 (Sustainable Forest Management Policy 2.0) dengan serangkaian target APRIL2030.

Addriyanus menjelaskan, Kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan merupakan faktor kunci dalam mencapai praktik dan inisiatif pengelolaan hutan lestari. Namun, di antara semua pemangku kepentingan, masyarakat yang tinggal di dalam batas operasi adalah yang paling signifikan untuk menjadi lebih inklusif sehingga pelibatan yang erat menjadi prioritas untuk hasil yang lebih efektif dan sukses bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat.  

“Pengelolaan hutan lestari memungkinkan kita untuk melindungi dan menghasilkan dari lanskap yang sama. Dan pengalaman kami menunjukkan bahwa kami tidak dapat melakukannya sendirian. Kita perlu berkolaborasi dengan pemangku kepentingan lainnya, dan pemangku kepentingan yang paling penting adalah masyarakat setempat,” ujar Addriyanus menutup paparannya. (Sam)


[Ikuti RiauBernas.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar