Kesulitan Air, Mahasiswa KKN Bantu Desa Hidupkan Sumur Bor Yang Mati

Kesulitan Air, Mahasiswa KKN Bantu Desa Hidupkan Sumur Bor Yang Mati

Mulya Subur, Pelalawan — Kemarau yang berlangsung cukup lama sejak awal agustus, bukan saja  menyebabkan kebakaran hutan di mana-mana, tetapi juga menyebabkan masyarakat Desa Mulya Subur, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kabupaten Pelalawan mengalami kekeringan  sumber air bersih.

Selama berminggu-minggu masyarakat mengalami kersis air bersih. Menghadapi kenyataan itu masyarakat yang di bantu mahasiswa terpaksa melakukan kerja keras dengan menghidupkan kembali sumur-sumur yang sudah mati agar kembali  mendatangkan air.

“Alhamdulillah, sekarang persoalan kekeringan sudah dapat teratasi, karena  sumur yang selama ini mati atas kerja sama masyarakat dan mahasiswa dapat kembali  mendatangkan air, “ujar Datin Amanda Salsabila, mahasiswi Universitas Muhammadiah Pekanbaru kepada awak media, Sabtu 29 Agustus.

Lebih lanjut Mahasiswi Manajemen smester 6 ini juga menambahkan bahwa Pemerintah Desa Mulya Subur saat ini tengah berupaya melakukan reaktivasi fasilitas air bersih (sumur bor/Pamsimas) guna mengantisipasi kebutuhan masyarakat di musim kemarau. Fasilitas vital yang menelan anggaran lebih dari satu miliar rupiah ini sebelumnya sempat terkendala masalah teknis dan pemeliharaan.

Program penyediaan air bersih ini pertama kali direalisasikan pada tahun 2019 silam.  Pembangunan ini berangkat dari hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) desa serta visi misi Kepala Desa yang menjabat saat itu. Tujuannya sangat jelas: membebaskan warga dari keterpaksaan membeli air dari luar desa setiap kali musim kemarau tiba.

Dikatakan sumur bor ini dulunya adalah proyek strategis desa yang dibangun dengan kolaboratif antara pemerintah desa, anggota DPRD Kabupaten Pelalawan, Rahman Mujianto dan pemerintah Provinsi Riau. Sumurnya di bangun oleh desa, mesin disel dan pipanisasi sepanjang 2 km dibantu oleh anggota DPRD melalui dana aspirasi, sementara bak penampungan air di bangun oleh provinsi Riau.

Sumur bor ini sudah sempat disambung ke perumahan masyarakat, dengan masing  masing menggunakan meteran, tetapi hanya bertahan beberapa bulan, kendalanya adalah terjadi kesulitan dalam pengawasan saluran pipa karena jaraknya yang begitu jauh. Akibat tidak terawasi maka banyak bagian pipa penyaluran air yang mengalami kerusakan yang dilakukan oknum oknum masyarakat yang tidak bertanggung jawaab.

Di sisi lain, minimnya rasa memiliki dari masyarakat juga menjadi faktor utama terhentinya aliran air. Warga cenderung hanya memanfaatkan fasilitas ini saat musim kemarau, dan membiarkan alat terbengkalai rusak saat musim hujan tiba.

"Kini, kepala desa berupaya keras menghidupkan kembali fasilitas tersebut. Langkah reaktivasi pompa air PDAM ini mendapat dukungan tenaga dan kolaborasi langsung dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI). Berkat kerjasama yang sungguh sungguh, antara desa dan Kelompok Mahasiswa KKN UMRI kelompok 108, terdiri dari 12 siswa yang di dampingi Dosen Fauzan Azim S.Kom, M.Kom KKN UMRI, fasilitas ini perlahan mulai dapat diaktifkan kembali, meski distribusinya saat ini belum bisa menjangkau seluruh rumah warga secara optimal,” tambahnya.

Dalam kesempatan terpisah Kepala Desa Mulya Subur, Podo Sunatmo menegaskan dan sangat berharap agar kepemimpinan desa selanjutnya dapat meneruskan dan merawat program Pamsimas ini. "Kebutuhan air bersih adalah yang utama. Selama ini masyarakat menadah air 
hujan lalu dimasukkan ke sumur, yang secara kesehatan tentu kurang baik," jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, keberlanjutan pasokan air bersih ini dinilai sangat krusial, tidak hanya untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, tetapi juga sejalan dengan program pemerintah pusat dalam menekan angka stunting di daerah.


Penulis: Mahasiswa KKN UMRI kelompok 108.
Dosen Pembimbing: Fauzan Azim S.Kom, M.Kom.