Menyusuri Tapak Peradaban di Kota Industri: Jelajah Budaya Tualang Gali Sejarah Lokal Menuju Kemah Budaya 2026

Menyusuri Tapak Peradaban di Kota Industri: Jelajah Budaya Tualang Gali Sejarah Lokal Menuju Kemah Budaya 2026

 

SIAK — Pagi itu, Pujasera Kampung Pinang Sebatang mendadak ramai, puluhan siswa dari berbagai sekolah di Kota Industri menjajaki peradaban Kota Perawang.

Dimulai dari kampung tertua yaitu Kampung  Pinang Sebatang, semenjak ada perusahaan terbesar di Asia Tenggara yaitu PT IKPP Perawang, Pinang Sebatang disulap jadi pusat industri, hiruk-pikuk deru mesin dan asap cerobong pabrik yang memperkuat Perawang sebagai Kota Industri. Konon, sebuah jejak peradaban lama kembali disusuri, pada Sabtu (25/7/2026), Komunitas Pecinta Budaya Tualang berkolaborasi dengan Pemerintah Kampung Pinang Sebatang menggelar agenda Jelajah Budaya, sebuah kegiatan pembuka menuju helat akbar Kemah Budaya 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Agustus mendatang.

Mengusung tema "Gerak Nadi Industri", kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami bahwa di balik julukan Kota Industri yang melekat pada Tualang, tersimpan denyut sejarah dan kebudayaan Melayu yang amat kaya sepanjang aliran Sungai Siak.

Menyusuri Tiga Kampung dan Jejak Industri 1960-an, Jelajah Budaya ini melintasi rute bersejarah di Kecamatan Tualang yang mencakup tiga kampung: Pinang Sebatang, Tualang, dan Maredan.

Para peserta diajak membedah riwayat tempatan, mulai dari asal-usul penamaan kampung, historis batas wilayah, hingga menyaksikan langsung tapak-tapak dan peradaban industri di wilayah ini sejak era 1960-an.

Ketua Panitia Kemah Budaya 2026, Tarmizi, S.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar sejarah secara langsung di lapangan (outdoor learning).

"Tualang tidak lahir begitu saja sebagai kota industri. Ada akar sejarah panjang disepanjang sungai siak yang perlu diketahui oleh generasi muda, mulai dari asal-usul nama kampung hingga peninggalan industri dari era 1960-an. Kami ingin anak-anak menyadari bahwa kemajuan industri dan kelestarian sejarah lokal bisa saling melengkapi," kata Tarmizi.

Kegiatan ini diikuti oleh puluhan pelajar representatif dari tingkat SMP dan SMA se-Kecamatan Tualang, di antaranya, tingkat SMP, yaitu perwakilan SMPN 3 Tualang, SMPN 4 Tualang, SMPN 5 Tualang, dan SMPN 9 Tualang. Sedangkan tingkat SMA/MA yaitu SMAN 1 Tualang, SMAN 2 Tualang, SMAN 5 Tualang, serta MAN Insan Cendekia (IC) Siak.

Sepanjang perjalanan menyusuri bentang alam dan cagar sejarah, keselamatan para peserta berada dalam pengawalan ketat tim pengaman yang diiringi langsung oleh personel Bhabinkamtibmas Pinang Sebatang serta aparat TNI Angkatan Laut (TNI AL).

Dari Pengetahuan Lapangan Menuju Panggung Pertunjukan Jelajah Budaya bukan sekadar perjalanan rekreasi sejarah. Seluruh data, cerita lisan, serta artefak pengetahuan yang diperoleh siswa-siswi selama penelusuran akan diolah secara kreatif menjadi karya seni pertunjukan.

Hasil interpretasi budaya tersebut nantinya akan diperlombakan dalam puncak acara Kemah Budaya 2026 pada 21–23 Agustus 2026.

Selain kompetisi seni pertunjukan berbasis riset sejarah lokal, panggung Kemah Budaya mendatang juga akan disemarakkan dengan serangkaian agenda kebudayaan, seperti, Pemutaran film dokumenter kebudayaan, Seminar budaya dan diskusi sejarah tempatan, Pertunjukan seni dan tradisi Melayu, Permainan tradisional lintas generasi, Festival kuliner warisan tradisi Tantangan Antusiasme Sekolah dan Visi Budaya Riau

Meski membawa misi penting dalam melestarikan memori kolektif daerah, panitia menyadari bahwa optimalisasi keterlibatan institusi pendidikan masih menjadi tantangan yang perlu dibenahi bersama.

Tarmizi menandaskan pentingnya sinergi dengan pihak sekolah agar pengenalan sejarah lokal tidak sebatas menjadi wacana di dalam kelas.

"Kami sangat mengapresiasi sekolah-sekolah yang sudah berpartisipasi aktif. Kedepan, kami berharap dukungan dari seluruh satuan pendidikan di Tualang dapat semakin solid, sehingga potensi edukasi kebudayaan ini bisa menjangkau lebih banyak generasi muda," tambah Tarmizi.

Sementara itu, Penghulu Kampung Pinang Sebatang, Sabarrudin, S.Hut, menegaskan komitmen pemerintah kampung dalam mendukung ruang-ruang edukasi kebudayaan berbasis komunitas karena selaras dengan arah pembangunan jangka panjang daerah.
"Pemerintah Kampung Pinang Sebatang mendukung penuh kegiatan ini. Langkah ini sejalan dengan visi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Riau, yaitu 'Riau Maju dan Berkelanjutan Berlandaskan Budaya Melayu yang Agamis', serta cita-cita menjadikan Riau sebagai pusat peradaban Melayu di Asia Tenggara. Pembangunan daerah yang maju harus tetap mengakar kuat pada identitas budaya tempatan," tegas Sabarrudin.

Melalui kegiatan seperti Jelajah Budaya dan Kemah Budaya, upaya menempatkan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu bukan sekadar jargon di atas kertas, melainkan wujud nyata yang digerakkan secara bergotong-royong dari tapak-tapak sejarah di tingkat kampung. (van)