Fee Tanaman Kehidupan, Apakah Masih Mustahil?

Fee Tanaman Kehidupan, Apakah Masih Mustahil?
Dedi / putra asli Pelalawan

Pekan lalu, saya sempat dipanggil oleh seorang tokoh karismatik dan disegani di pemerintah daerah. Kepada saya beliau menegaskan bahwa kecintaannya kepada Pelalawan, dalam hal ini (kampung muasal nama Kabupaten Pelalawan), Kelurahan Pelalawan tidak berubah.

Keinginan memberikan yang terbaik kepada masyarakat tempatan melalui hak kesejahteraan berupa fee tanaman kehidupan mendarah daging di sanubari beliau, memang tidak persis seperti itu keluar dari lafazh beliau kala itu.

Namun gestur, intonasi bahasa, mimik wajah dan tatapan beliau sangat menyiratkan hal tersebut. Waktu 30 menitan pertemuan kami sangat memberikan kesan mendalam betapa serius beliau akan perjuangan mengembalikan hak tanaman kehidupan yang tertunda di perusahaan raksasa Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) kepada anak jati, warga warga tempatan di negeri para raja Pelalawan.

"Terkait tanaman kehidupan di Kelurahan Pelalawan sudah on the track,"kata beliau kepada saya waktu itu.

Untuk menganalisa makna "on the track" yang beliau sampaikan, saya sempat mengernyitkan dahi agar bisa memahami maksud yang tersirat dari pernyataan itu. Saya takut salah mengartikan, seolah olah perjuangan itu sudah selesai dan masyarakat tinggal menunggu pencairan saja.

Bukan, bukan seperti itu maksud beliau. Namun dari kata kata yang mengalir tersusun berikutnya dari sosok yang satu ini, saya mencerna.  Apa yang diidamkan masyarakat Kelurahan Pelalawan hanya tinggal menunggu waktu saja, jika, ini jika ya!. Jika masyarakat Kelurahan Pelalawan memang memiliki keinginan untuk menyelesaikannya. Namun jika masyarakat tidak berfokus pada penyelesaian namun hanya berkutat pada proses dan tarik menarik kepentingan, ini akan kembali menjadi cerita lama. Perjuangan yang tak kenal lelah kembali terulang dan dihidupkan lagi, bahkan saat sebagian besar orang merasa telah lelah menjadi celah untuk pembenaran  menciptakan keadaan terlihat tak jelas.

Sejujurnya, jika di telaah dari apa yang di sampaikan oleh Pemerintah Daerah, baik itu bupati, sekda atau pejabat terkait lainnya, Pemkab telah memberi garis tegas, jelas lah apa pesan yang ingin disampaikan. Pemkab tidak lagi bermain di ranah abu abu, tidak ambigu dalam retorika kebijakan dan tidak membiarkan masyarakat berjuang dengan caranya sendiri, tersebab itu. Perundingan diambil alih. Tim tim perunding bentukan masyarakat yang lama berjuang tak berujung di istirahatkan demi alasan efektivitas.

Goal kesejahteraan masyarakat menjadi satu satu nya tujuan yang harus di capai. Dengan dinamika yang tak serumit dibayangkan dulu, sejatinya perjuangan fee tanaman kehidupan masyarakat Kelurahan Pelalawan telah sampai di penghujungnya, telah menampakkan titik terang.

Namun implementasi di lapangan tidak selalu mulus, riak dan kerikil ada saja menjadi ganjalan dalam setiap perjuangan atas nama kebaikan bersama.

Apa yang terpikirkan oleh pemimpin negeri tertinggi di pusat pemerintahan Bhakti Praja tidak serta merta difahami sempurna oleh perwakilan Pemkab di tingkat bawah. Mungkin salah tafsir perintah, atau ada keinginan untuk berimprovisasi dalam penyelesaian masalah yang menjadi perhatian banyak mata dan sudut pandang banyak orang di Kabupaten Pelalawan ini, bisa itu keinginan menunjukkan diri saja, bisa jadi seperti itu. Semoga tidak ada agenda lain selain atas nama kepentingan masyarakat Kelurahan Pelalawan. Jangan sampai ya, jangan sampai ya bapak bapak pemangku kebijakan yang terhormat.... itu harapan kita bersama, dan saya yakin tidak seperti itu juga.

Terus apa keyakinan saya sampai detik ini, belum ada deal fee tanaman kehidupan dari RAPP diterima masyarakat?harus juga kita fahami bahwa menyelesaikan kusut sengkarut yang sudah berlangsung selama puluhan tahun tidak seperti membalikkan telapak tangan. Namun harus pula kita memiliki keyakinan dan optimisme bahwa apa yng sedang di ikhtiarkan telah berjalan sesuai harapan. Kata panutan saya tadi, on the track...

Sebagai masyarakat, ikhtiar apa yang perlu kita lakukan atau doa apa yang harus dipanjatkan agar apa yang diidam idamkan puluhan tahun itu dapat terealisasi sebelum tengah tahun ini, minimal sesudah idul adha, di mana makna pengorbanan hakiki atas nama ketuhanan kita rayakan.

Op,tak usah kita bahas masalah qurban dan masalah masalah keagamaan lainnya di luar keterbatasan pengetahuan saya untuk itu. Kalau masalah aqidah, masalah sunah dan wajib ada banyak ulama, dai,mubalik ustadz dan tokoh agama yang faham di Pelalawan ini. Memang harus diakui perlu juga pendekatan religi juga sih dalam perjuangan hak fee tanaman kehidupan ini, tapi kalau  tokoh tokoh panutan dalam bidang dakwah itu mau. Kalau mereka enggan, ya tidak bisa pula kita memaksa mereka. Namun perlu juga diingat dalam perjuangan fee tanaman kehidupan ada juga hak mereka yang sama dengan masyarakat lainnya. Tak apa apa, jika mereka tidak berbuat untuk perjuangan ini, toh tidak juga mengurangi hak mereka saat pencairan nanti. Namun jika mereka ikut dalam barisan perjuangan, dan memaknai peran mereka adalah kewajiban yang harus ditunai untuk mendapatkan hak, jika itu terjadi maka haqqul yakin lah kita, jalan itu semakin mudah.

Ada perjuangan di atas bumi, ada campur tangan langit, dan ada tuah negeri para raja..insya Allah.. apa yang kita ikhtiarkan kayaknya sebentar lagi.

Ngomong ngomong tentang ikhtiar, apa yang mesti kita lakukan sebagai masyarakat yang menginginkan hak itu di tunaikan RAPP? Sekarang ini, yang perlu dilakukan masyarakat sangat sederhana, dukung penuh pemerintah untuk melakukan perundingan dengan perusahaan, jangan berkelahi dengan sesama karena perbedaan pendapat, kedepankan cara berpikir terbuka untuk menerima masukan konstruktif sesuai aturan atas apa yang kita perjuangkan, dan yang penting lagi untuk ciptakan suasana kondusif, aman dan tanpa gejolak. Serta hindari diskusi diskusi yang mengarah pada perpecahan dan adu domba. Kita fokus saja pada tujuan bersama yaitu fee tanaman kehidupan, bukan berebut jabatan pengurus koperasi atau posisi ketua dan perwakilan juru runding. Bukan itu alasan kita menguras energi.

Jika masyarakat terpecah, yakinlah ada sebagaian kecil yang menikmati dari kegaduhan itu. Demi atas nama sebagian besar kita, Bersatulah kita untuk tujuan yang lebih besar.....

Andai pertanyaan kita seperti judul diatas, apakah fee tanaman kehidupan masih dirasakan mustahil saat ini? Jika kita bergerak bersama, insya Allah, hak itu akan datang mensejahterakan kita. Semoga....

Penulis : Dedi (Putra asli Pelalawan)