PELANBARU (Riaubernas) - Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PD KAMMI) Pekanbaru menyatakan sikapnya terkait insiden pembacokan terhadap seorang mahasiswi di lingkungan kampus UIN Suska Riau.
"Kami menyampaikan kecaman keras dan keprihatinan mendalam atas insiden pembacokan terhadap seorang mahasiswi di lingkungan kampus UIN Suska Riau. Peristiwa ini merupakan tindakan brutal yang mencederai rasa aman, nilai kemanusiaan, serta marwah dunia pendidikan," tegas Ketua PD KAMMI Pekanbaru Arifuttajjalli, Jumat (27/2/2026).
Arif juga menekankan bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun merupkan tindakan kriminal dan tidak memiliki pembenaran moral sedikit pun, tidak atas nama cinta, emosi, kecemburuan, maupun alasan pribadi lainnya. Kekerasan bukanlah ekspresi perasaan, melainkan kegagalan dalam mengendalikan diri dan merendahkan nilai kemanusiaan.
"Peristiwa ini menunjukkan sistem perlindungan di ruang pendidikan masih memiliki celah serius. Kampus harusnya menjadi ruang yang aman dan bermartabat. Jika kekerasan bisa terjadi di dalamnya, maka ada tanggung jawab besar yang harus segera dibenahi, baik dari sisi keamanan maupun pembinaan karakter,” tegasnya.
Senada dengan itu, Hayatul Husna selaku Kabid Pemberdayaan Perempuan PD KAMMI Pekanbaru menyampaikan kekerasan terhadap perempuan tidak boleh lagi dianggap sebagai persoalan personal semata, melainkan juga ada struktur dan kultur yang memberikan ruang terjadinya kekerasan tersebut hingga akhirnya perempuan jua lah nya yang jadi korbannya.
“Perempuan berhak merasa aman di ruang mana pun, terlebih di lingkungan akademik. Edukasi tentang relasi sehat, kesadaran gender, serta pengendalian emosi harus diperkuat secara sistematis,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa ruang pendidikan belum sepenuhnya aman bagi perempuan. Kampus seharusnya menjadi ruang intelektual yang menjunjung tinggi nilai adab dan kemanusiaan bukan ruang ancaman dan ketakutan.
"Setiap bentuk kekerasan terhadap perempuan adalah bentuk kegagalan kolektif dalam menjaga nilai kemanusiaan dan perlindungan terhadap kelompok rentan."tegas Hayatul
Oleh karena itu, kami PD KAMMI Pekanbaru mendesak penegakan hukum yang tegas, transparan, dan tanpa kompromi terhadap pelaku sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan kampus, termasuk mekanisme pencegahan dan respons cepat terhadap potensi kekerasan.
"Dan yang penting sekali, PD KAMMI Pekanbaru mendesak agar dilakukan penguatan edukasi tentang relasi yang sehat, pengendalian emosi, literasi gender, dan nilai moral di lingkungan pendidikan."sebutnya
KAMMI juga mengajak seluruh elemen masyarakat, civitas akademika, mahasiswa, aparat penegak hukum, serta keluarga untuk membangun relasi yang sehat, beradab, dan bertanggung jawab, serta menanamkan nilai akhlak dalam setiap interaksi.
"Dalam ajaran Islam, cinta yang diridhai Allah adalah cinta yang menjaga kehormatan, menghadirkan ketenangan, serta menumbuhkan kebaikan, bukan cinta yang mengintimidasi dan melukai,"bebernya
KAMMI Pekanbaru mengusung tagline dalam perjuangan bersama melawan tindakan tindakan brutal dan amoral di kampus, diantranya kampus harus aman. Perempuan harus terlindungi. Kekerasan harus dihentikan.
"Mari kita ramaikan tagar #StopKekerasanTerhadapPerempuan, #KampusAman, #CintaTanpaKekerasan di media sosial kita sebagai wujud kecamatan terhadap kekerasan di Kampus UIN Suska Pekanbaru,"pungkas Hayatul ***