Lewat Program “Techno-Zakat”, 10 Mustahik Pelalawan Disiapkan Jadi Teknisi Smartphone Berdaya Saing

PELALAWAN – Kemajuan teknologi komunikasi tidak lagi sekadar menjadi kebutuhan konsumtif masyarakat pedesaan. Melalui program “Techno-Zakat”, teknologi justru dimanfaatkan sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat mustahik di Kabupaten Pelalawan.

Sebanyak 10 pemuda mustahik binaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Pelalawan berhasil menyelesaikan pelatihan vokasi teknologi intensif dan menerima sertifikat kompetensi sebagai teknisi smartphone.

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut merupakan inisiatif dosen Politeknik Negeri Padang (PNP) Kampus Pelalawan, Fadli Fadilillah, S.Kom., M.Kom., melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026.

Puncak program ditandai dengan penyerahan sertifikat kompetensi sekaligus serah terima aset teknologi tepat guna berupa Smart Repair Workstation dan platform digital manajemen usaha teknisi smartphone di Rumah Program BAZNAS Kabupaten Pelalawan, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Pelaksana Program Pengabdian Fadli Fadilillah, S.Kom., M.Kom., Ketua BAZNAS Kabupaten Pelalawan H. Karmani, S.Pd.I., M.H., serta Koordinator PSDKU PNP Pelalawan.

Sebanyak 10 mustahik yang dinyatakan lulus dan dipersiapkan untuk mengembangkan usaha secara mandiri tersebut yakni Warsito, Alwis Azhar, Ardi Firdaus, Darma, Hengki, Bagus, Dede Yusuf, Edi Idrus, Ilyas Mustika, dan Awal.

Dari Pelatihan Vokasi hingga Digitalisasi Usaha

Fadli Fadilillah mengatakan, Techno-Zakat dirancang sebagai model pemberdayaan yang mengintegrasikan pelatihan keterampilan teknis dengan pengembangan usaha berbasis digital.

Menurutnya, program tersebut menggabungkan tiga pilar utama, yakni pelatihan vokasi teknologi, implementasi platform manajemen usaha digital, dan mekanisme keberlanjutan usaha berbasis prinsip syariah.

“Kami membekali mustahik dengan kurikulum akselerasi intensif selama 200 jam. Materinya dibagi dalam beberapa level kompetensi, mulai dari tingkat basic hingga advanced,” ujar Fadli.

Pada tingkat dasar, peserta dibekali kemampuan perbaikan perangkat keras bagian luar serta penanganan kerusakan sistem operasi dasar. Sementara pada tingkat lanjutan, peserta mendapatkan keterampilan microsoldering hingga perbaikan komponen dan chip pada tingkat lebih kompleks.

Tidak berhenti pada keterampilan teknis, para peserta juga dibekali sistem digital untuk mendukung pengelolaan usaha.

Platform yang dikembangkan dengan nama ZakatTech Platform tersebut merupakan hasil kolaborasi tim dosen pelaksana, di antaranya Dedi Tri Laksono dan Antoni Pribadi, bersama mahasiswa PNP, Hani Putri Pratiwi dan Kumala Sari Tri Wahyuni.

Platform tersebut dirancang untuk membantu mendigitalisasi proses bisnis bengkel servis smartphone. Fitur yang tersedia antara lain pelacakan status perbaikan menggunakan QR Code bagi pelanggan serta sistem pemantauan ketersediaan suku cadang melalui fitur stock alert.

BAZNAS Repair Hub Pangkas Jarak Layanan

Ketua BAZNAS Kabupaten Pelalawan H. Karmani menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, keberadaan teknisi lokal sekaligus pusat layanan perbaikan smartphone dapat menjawab salah satu persoalan masyarakat di wilayah pedesaan, yakni keterbatasan akses terhadap layanan servis.

“Selama ini masyarakat di pelosok harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan layanan perbaikan smartphone. Dengan adanya BAZNAS Repair Hub, masyarakat bisa mendapatkan layanan servis di daerah sendiri,” kata Karmani.

BAZNAS Repair Hub yang berada di Rumah Program BAZNAS Pelalawan diharapkan menjadi pusat layanan sekaligus tempat praktik dan pengembangan usaha bagi para teknisi mustahik.

Menurut Karmani, program tersebut tidak hanya bertujuan menciptakan tenaga teknisi, tetapi juga mendorong mustahik memiliki sumber pendapatan produktif dan pada akhirnya mampu meningkatkan kemandirian ekonomi.

Dibangun dengan Skema Keberlanjutan

Program Techno-Zakat juga dirancang tidak berhenti setelah pelatihan dan penyerahan peralatan. Keberlanjutan usaha menjadi bagian penting dari konsep pemberdayaan tersebut.

BAZNAS Repair Hub menerapkan mekanisme kontribusi bagi hasil sebesar 2,5 persen dari laba bersih operasional harian teknisi mustahik. Dana tersebut akan dihimpun dan diarahkan untuk mendukung program pemberdayaan mustahik berikutnya.

Melalui fitur kalkulator zakat pada ZakatTech Platform, mekanisme tersebut ditujukan untuk membantu pengelolaan dana secara lebih terukur dan transparan.

Dana yang terkumpul selanjutnya direncanakan diputar kembali melalui skema Qardhul Hasan untuk mendukung pengadaan paket peralatan atau startup kit bagi calon teknisi dari kelompok mustahik berikutnya.

Dengan pola tersebut, Techno-Zakat tidak hanya membangun keterampilan teknis, tetapi juga mencoba menciptakan rantai pemberdayaan yang berkelanjutan: mustahik dilatih, difasilitasi peralatan, dibantu membangun usaha, kemudian hasil usahanya ikut menopang lahirnya mustahik produktif berikutnya.

Didukung Hibah Kemdiktisaintek

Program Techno-Zakat terlaksana melalui dukungan pendanaan hibah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026.

Pendanaan tersebut diperoleh setelah proposal pengabdian kepada masyarakat yang diajukan Fadli Fadilillah, S.Kom., M.Kom., dosen Politeknik Negeri Padang, dinyatakan lolos dalam skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

Seluruh aset fisik yang diserahterimakan dalam program tersebut juga dilengkapi penandaan pendanaan Kemdiktisaintek TA 2026 dan dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima (BAST) sebagai bagian dari pertanggungjawaban dan keberlanjutan pemanfaatan aset.

Melalui sinergi perguruan tinggi dan BAZNAS tersebut, 10 pemuda mustahik Pelalawan kini tidak hanya membawa pulang sertifikat kompetensi. Mereka juga dibekali keterampilan, peralatan, dan sistem digital yang diharapkan menjadi modal untuk membangun usaha jasa perbaikan smartphone secara mandiri dan berkelanjutan. (ndy)

Baca Juga